SELAMAT DATANG DIBLOG SITARAGUYANG MOHON MAAF BLOGNYA MASIH DALAM PERBAIKAN

Kamis, 09 Desember 2010

SENGGAMA DALAM ISLAM


Menurut syariat Islam senggama atau hubungan sexual perlu dilakukan pasangan pasutri karena memiliki tujuan mulia. Tujuan itu ada yang bersifat individual maupun kolektif diantaranya adalah :
1. Mengeluarkan Air Kotor yang Membahayakan Badan.

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab at-Thibbun Nabawi, salah satu tujuan senggama adalah mengeluarkan air kotor dari dalam badan dan tidak baik bagi kesehatan bila disimpan terlalu lama. Hal ini tentu saja berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pada zaman itu. Dan berdasarkan kajian ilmiah di jaman sekarang sudah banyak ahli kesehatan yang mengkaitkan kesehatan jiwa raga seseorang dengan kegiatan hubungan seksual. Bahkan hubungan seksual dijadikan salah satu sarana terapi kesehatan bahkan penyembuhan penyakit.
2. Memuaskan Hawa Nafsu dan Mengapai Kenikmatan

Ajaran Islam tidak mematikan hawa nasfu birahi para pemeluknya dan tidak pula membiarkan pemeluknya melampiaskan hawa nafsu sesukanya.
3. Memenuhi Hak Istri

Pada dasarnya senggama itu bertujuan untuk i’faf an-nafsi atau menjaga suami dari perzinahan baik zinah badan, mata ataupun zinah hati serta menjaga dari perselingkuhan maupun perkara haram lainnya.

Namun suami tidak boleh egois atau mementingkan kepuasan diri, ia juga wajib memuaskan kebutuhan istri. Dengan pemenuhan nafkah batin itu diharapkan istri dapat menjaga diri, termasuk pandangan dan kemaluannya dari perkara yang diharamkan Allah Swt.

Persetubuhan adalah mu’asyarah bi ma’ruf atau pergaulan baik dari suami yang diperintahkan Allah Ta’ala terhadap istri yang merupakan hak istri untuk memperoleh kepuasan dan kenikmatan.
4. Memperoleh dan Memelihara Keturunan

Hubungan kelamin itu untuk memelihara kelangsungan hidup manusia diatas permukaan bumi. Dan jelas ini sangat mendasar dan penting.

Islam melarang umatnya hidup membujang alias tidak bersuami atau tidak beristri.

Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku berbangga atas para nabi dengan jumlah (pengikut) yang banyak pada hari kiamat” – HR. Ibn Hibban

Amin Ya Rabb.
sumber : Hakim, al-Mustadrak ‘alas Saihan, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, catakan pertama, halaman 114, 1990 – Ust. Dr. H. Muchamad Ichsan, Lc., MA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar